“Hukum tanpa praktik bagaikan pedang tanpa mata” – filosofi yang kini hidup di ruang praktik Fakultas Hukum Unanda
Senin pagi, 28 Juli 2025, menjadi hari bersejarah bagi mahasiswa Fakultas Hukum Unanda. Ruang praktik kampus yang biasanya sunyi, kini berubah menjadi “pengadilan mini” yang hidup dan dinamis. Mahasiswa tidak lagi sekadar menghafal pasal demi pasal—mereka menghidupinya.
Ahmad Faidhul Haq, mahasiswa semester 6, merasakan transformasi luar biasa ketika mengenakan toga hakim untuk pertama kalinya. “Rasanya seperti ada beban moral yang tiba-tiba menempel di pundak,” ungkapnya dengan mata berbinar. “Ini bukan sekadar bermain peran—ini persiapan mental untuk mengabdi pada keadilan.”
Revolusi Pembelajaran: Dari Teori ke Aksi
Peradilan semu ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ini adalah statement berani melawan kritik pedas yang selama ini melekat pada pendidikan hukum Indonesia: terlalu teoritis, kurang aplikatif.
“Kami lelah dengan stigma mahasiswa hukum yang hanya pintar berteori tapi gagap di praktik,” tegas Faidhul dengan semangat yang menggebu. “Melalui simulasi ini, kami membuktikan bahwa generasi hukum masa depan siap menghadapi realitas persidangan yang sesungguhnya.”
Yang menarik, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai satu profesi. Mereka bergiliran menjadi hakim, jaksa, pengacara, dan terdakwa.
Visi Besar: Melahirkan Penegak Hukum Berkarakter
Sulastri, dosen pengampu mata kuliah praktik, melihat ini sebagai game changer dalam pendidikan hukum. “Pendidikan hukum di Indonesia butuh revolusi,” katanya dengan conviction yang kuat. “Tidak cukup hanya menghafalkan undang-undang. Mahasiswa harus merasakan dilema moral, tekanan emosional, dan kompleksitas keputusan hukum.”
Menurutnya, peradilan semu bukan sekadar latihan teknis beracara. “Ini pembentukan karakter. Bagaimana mereka bersikap adil ketika ada tekanan politik? Bagaimana mereka mempertahankan integritas ketika godaan korupsi menghadang? Semua itu dilatih sejak di bangku kuliah.”
Dekan Bicara: Mimpi Besar untuk Indonesia
Dr. Haedar Djidar, Dekan Fakultas Hukum Unanda, tidak menyembunyikan antusiasmenya. Matanya memancarkan harapan besar ketika melihat simulasi berlangsung.
“Saya tidak hanya melihat mahasiswa berlatih beracara,” ujarnya dengan nada penuh makna. “Saya melihat calon-calon hakim agung, jaksa agung, dan pengacara terbaik Indonesia sedang diasah. Semoga yang bermain-main hari ini, benar-benar memegang palu keadilan esok hari.”
Simbol Harapan Baru
Langkah sederhana mahasiswa Unanda ini sesungguhnya melambangkan perubahan paradigma besar. Mereka tidak puas menjadi passive learners yang hanya menyerap teori. Mereka ingin menjadi active practitioners yang siap mengubah wajah hukum Indonesia.
“Ini bukan akhir, tapi awal dari revolusi pendidikan hukum yang lebih kontekstual dan bermakna,” pungkas Faidhul dengan keyakinan bulat.
Di ruang praktik sederhana Unanda Palopo, benih-benih penegak hukum masa depan sedang disemai. Ketika teori bertemu praktik, lahirlah generasi yang tidak hanya mengerti hukum, tetapi sanggup menegakkannya dengan integritas.
#UnandaBerkarya #PendidikanHukumIndonesia #GenerasiPenegakHukum
