Oleh Tim Resona Saintek Unanda | Berdasarkan riset Dr. Idawati dan tim
Setiap batang cokelat punya cerita panjang di baliknya, mulai dari kebun, fermentasi, pengeringan, pengolahan, sampai pengiriman. Di setiap tahap itu ada emisi gas rumah kaca yang ikut terlepas. Pertanyaannya, bisakah cerita itu dibuat lebih hijau tanpa mengorbankan hasil panen?
Mengapa Kebun Kakao Ikut Bertanggung Jawab?
Pemanasan global membuat cuaca ekstrem makin sering terjadi, dari banjir dan angin kencang hingga kekeringan dan kebakaran hutan. Di negara berkembang seperti Indonesia, emisi terbesar berasal dari pemanfaatan lahan dan kehutanan. Karena itu, dari target penurunan emisi nasional 26% (41% dengan bantuan internasional), sekitar 88% diharapkan datang dari sektor lahan. Perkebunan kakao termasuk di dalamnya.
Perubahan iklim sendiri turut menekan petani. Pola hujan bergeser, produktivitas naik-turun, dan jadwal tanam tak lagi bisa ditebak.
Ke Mana Perginya Emisi dari Produksi Kakao?
Tim peneliti yang dipimpin Dr. Idawati menelusurinya dengan metode Life Cycle Assessment (LCA), yaitu menghitung dampak lingkungan dari hulu sampai hilir. Hasilnya, satu kilogram produksi menghasilkan potensi pemanasan global 2,092 kg CO₂-eq. Penyumbang terbesarnya adalah listrik (sekitar 21%) dan pupuk (sekitar 10%).
Pupuk Kimia: Murah di Awal, Mahal bagi Lingkungan
Pemakaian pupuk kimia yang berlebihan membawa tiga masalah:
- tanah kehilangan unsur hara dan makin tidak subur;
- cacing dan mikroorganisme penyubur tanah terganggu;
- sisa pupuk terbawa hujan ke air dan lingkungan sekitar.
Resep Sederhana Mengurangi Emisi
Penelitian menunjukkan bahwa menurunkan pupuk NPK dari 3,75 menjadi 1,25 kg per kilogram kakao menekan potensi pemanasan global dari 2,092 ke 1,745 kg CO₂-eq, atau turun sekitar 16%. Alternatifnya adalah beralih ke pupuk berbasis hayati. Pupuk organik seperti kompos, bokasi, dan pupuk organik cair dapat menjadi pengganti, dengan tambahan kapur agar tanah tidak mudah kering.

Petani Tetap Untung, Bahkan Lebih Siap
Pendekatan ini juga masuk akal secara ekonomi dan sosial:
- Ekonomi: praktik regeneratif dan sirkular, serta penanaman beragam klon kakao dalam sistem agroforestri, dapat menjaga bahkan meningkatkan produksi.
- Sosial: penyuluhan dan pelatihan membuat pupuk organik membangun kemampuan adaptasi petani.
- Energi: industri pengolahan perlu mulai melirik listrik dari sumber terbarukan, seperti panel surya.
Menuju Kakao Lestari
Menurunkan emisi bukan hanya urusan pemerintah atau peneliti. Keputusan kecil di kebun, seperti memilih pupuk dan menanam pohon penaung, ikut menentukan arah iklim. Kakao Luwu Utara punya peluang menjadi contoh bahwa cokelat bisa dinikmati tanpa membebani bumi.

Disarikan dari paparan Idawati dan Ayu Antariksa Rombe, Fakultas Pertanian Unanda_Koptan Masagena, Seko, 19–20 Agustus 2026. Tim Resona Saintek UNANDA 2026.
