Oleh Tim Resona Saintek Unanda | Berdasarkan riset Dr. Idawati dan tim

Kakao bukan hanya soal cokelat di meja kita, tetapi juga soal jejak lingkungan yang ditinggalkan sepanjang rantai produksinya. Riset penilaian siklus hidup (Life Cycle Assessment/LCA) yang dipimpin Dr. Idawati di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, memberi gambaran yang jelas tentang di mana dampak itu muncul dan bagaimana menguranginya.

Mengapa Riset Ini Penting

Menurut Idawati et.al., (2024) daya saing global industri pengolahan kakao ditingkatkan melalui implementasi kebijakan teknis sebagai sektor ekonomi berkelanjutan. Upaya ini dimotivasi oleh potensi produksi kakao yang besar dan tuntutan pasar internasional agar industri menerapkan teknologi inovatif dan efektif serta mematuhi standar keberlanjutan (lingkungan, sosial, dan ekonomi). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penilaian dampak lingkungan dari produksi kakao dari proses hulu hingga hilir di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Kabupaten Luwu Utara adalah salah satu produsen kakao terbesar di Indonesia. Untuk pengembangan produk yang berdaya saing internasional dan berkelanjutan, penting untuk memahami pentingnya hal-hal berikut: pengembangan industri, dengan fokus pada aspek ekonomi dan sosial serta dampaknya terhadap lingkungan.

Bagaimana Riset Dilakukan

Data dikumpulkan dari 321 responden yang aktif bekerja dan memiliki pengalaman minimal 8 tahun di bidang budidaya dan produksi kakao. Responden meliputi staf Koperasi Petani Masagena dari Industri Chalodo Sibali Resoe, Kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara, dan data sekunder diperoleh dari tinjauan pustaka. Selain itu, dampak lingkungan ditentukan menggunakan metode Midpoint Recipe dan basis data ecoinvent 3.8. Hal ini dilakukan berdasarkan Standar Organisasi Internasional untuk Penilaian Siklus Hidup 14040 dan 14044 dengan satuan fungsi 1 kilogram produksi kacang mete cokelat.

Temuan Utama: Listrik dan Pupuk Jadi Penyumbang Terbesar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan pupuk kimia lebih ramah lingkungan dibandingkan pengurangan semua kategori dampak yang dinilai, karena total potensi dampak pemanasan global dari produksi kacang mete chocodate adalah 2,092 kilogram setara karbon dioksida. Dalam konteks ini, listrik dan pupuk merupakan kontributor utama polusi lingkungan, masing-masing menyumbang 0,438 kilogram setara karbon dioksida dan 0,215 kilogram setara karbon dioksida, atau 20,97 persen dan 10,27 persen.

Kunci Penurunan Dampak: Kurangi Pupuk Kimia

Pengurangan penggunaan pupuk nitrogen, fosfat, dan kalium anorganik dari 3,75 menjadi 1,25 kilogram per kilogram kakao, atau adopsi pupuk nitrogen, fosfat, dan kalium berbasis bio dengan dosis 2,5/kilogram, dapat secara substansial mengurangi dampak lingkungan. Pengurangan ini menghasilkan penurunan potensi pemanasan global sebesar 16 persen, dari 2,092 menjadi 1,745 kilogram setara karbon dioksida. Selain itu, wawasan berharga diberikan mengenai ruang lingkup studi penilaian siklus hidup dan berkontribusi pada pemilihan sistem pertanian kakao berkelanjutan. Hasil ini dapat relevan bagi praktisi penilaian siklus hidup, pemangku kepentingan, dan pemerintah dalam memberikan wawasan berharga untuk perumusan kebijakan dan program pengembangan pertanian kakao di masa mendatang.

Rekomendasi untuk Kakao Berkelanjutan

Berikut ini adalah beberapa rekomendasi yang mungkin dilakukan:

Ramah lingkungan. Analisis menunjukkan bahwa dengan mengurangi penggunaan pupuk anorganik, khususnya dengan menurunkan penggunaan kalium nitrogen fosfat dari 3,75 menjadi 1,25/kg kakao, atau dengan beralih ke kalium nitrogen fosfat berbasis nabati dengan kadar 2,5/kg, dampak lingkungan dapat dikurangi secara signifikan. Pengurangan ini mencapai sekitar 16%, yang menyebabkan penurunan potensi pemanasan global dari 2.092 menjadi 1.745 kg CO2 -eq.

Mengurangi penggunaan pupuk NPK dan menggantinya dengan pupuk organik yang ramah lingkungan. Pupuk organik yang direkomendasikan meliputi kompos, bokasi, petrogenik, dan beberapa pupuk organik cair untuk tanaman kakao yang digunakan untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia. Selain itu, ada rekomendasi pupuk selain NPK Phonska, yaitu NPK Rainbow dan perlunya penggunaan kapur untuk mengurangi kekeringan tanah.

Dari segi ekonomi. Peningkatan produksi pertanian kakao dapat dicapai dengan mengadopsi praktik pertanian yang berakar pada prinsip regeneratif dan sirkular. Ini termasuk penyediaan input organik dan integrasi beragam varietas klon kakao dalam satu sistem lanskap agroforestri kakao.

Dari segi sosial. Kapasitas petani dapat ditingkatkan melalui konseling dan pelatihan dalam pembuatan dan penggunaan pupuk organik.

Sains dan teknologi. Pengumpulan data dapat digunakan untuk perbandingan dalam studi mendatang. Analisis lebih lanjut diperlukan mengenai sumber listrik alternatif untuk industri kakao, mulai dari bahan bakar fosil hingga sumber energi terbarukan baru seperti sel surya fotovoltaik.

Penutup

Riset ini menunjukkan bahwa langkah menuju kakao hijau bisa dimulai dari hal yang konkret, yaitu pemupukan dan sumber listrik, serta didukung pelatihan bagi petani. Tim Resona Saintek Unanda memandang temuan ini sebagai bekal bagi petani, pelaku industri, dan pemerintah daerah dalam menyusun program pengembangan kakao yang berdaya saing sekaligus berkelanjutan.

Dikutip dari Jurnal Global J. Environ. Sci. Manage. 10(2): 837-856, Spring 2024, Serial #38 dengan Life cycle assessment of cocoa farming sustainability by implementing compound fertilizer.

Peneliti: I. Idawati, N.A. Sasongko, A.D. Santoso, A.W. Sani, H. Apriyanto, A. Boceng

Ingin mendengarkan pembahasan riset ini secara lebih santai? Tonton podcast-nya di kanal YouTube berikut:

▶ Tonton Podcast di YouTube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *